Senin, 25 Oktober 2010

UJUNG

Senin, 25 Oktober 2010

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. (Q.S. Asy-Syura:20)

Di kehidupan yang fana, ada ujung yang sebetulnya “tak berujung”. Saat itu adalah ruang dan waktu transisi. Peralihan dari sebuah momen dramatik, penuh dengan pergulatan warna-warni hidup yang sering absurd. Dramatik, karena terdiri atas penggalan babak-babak drama kehidupan yang pasti diwarnai oleh rasa kemanusiaan, sebagaimana mafhumnya manusia. Sedih, senang, susah, gembira, baik, jahat, indah, semraut, simpatik, empatik, apatis, dan sebagainya. Absurd, karena peran yang

adakalanya paradoks. Pengemban sekaligus pelanggar amanah. Pengingat namun kerap menyengaja lupa.
Mulai dari jabang bayi yang merah. Yang baru menghirup kenaifan hidup. Sama sekali tak ada beban, lantaran belum termasuk mukallaf. Individu yang belum terkena hukum. Ia masih bebas, sebebas-bebasnya. Berperilaku seperti lingkungan mencontohkan. Ketika salah, maka tak pantas ia dipersalahkan.
Di fase inilah dipercaya sebagai masa keemasan anak manusia. Kedua orangtua yang menjadi sosok-sosok terdekat, yang dominan menjadi proyek percontohan proses belajar anaknya. Berperan besar “menentukan” masa depan buah hati mereka. Masa-masa ini, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah, namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya.” (Muttafaq alaih).
Beranjak remaja dan fase-fase berikutnya, proses terus berlanjut. Makhluk manusia sudah terkena hukum. Apa-apa yang dilakukan jika tak berkesesuaian dengan aturan, maka harus dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, pun demikian. Disinilah pertarungan menghapus yang absurd itu terjadi. Tak akan ada lagi paradoks, jika ragu sudah berhasil ditaklukan.
Untuk sampai di ujung kefanaan, tak semua individu mengalami fase tadi. Bisa saja tak lama setelah terlahir ke dunia, Allah SWT sudah memanggilnya. Bagi yang diberi kesempatan lebih panjang, maknai itu sebagai bentuk kasih sayang Allah, agar bisa mengoptimalkan persiapan. Persiapan berupa bekal hakiki yang akan menjadi penolong di hari kemudian. Ujung yang indah. Insya Allah.
Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Q.S. Al-Isra:21)


0 komentar:

Posting Komentar

UJUNG

0 komentar
Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat. (Q.S. Asy-Syura:20)

Di kehidupan yang fana, ada ujung yang sebetulnya “tak berujung”. Saat itu adalah ruang dan waktu transisi. Peralihan dari sebuah momen dramatik, penuh dengan pergulatan warna-warni hidup yang sering absurd. Dramatik, karena terdiri atas penggalan babak-babak drama kehidupan yang pasti diwarnai oleh rasa kemanusiaan, sebagaimana mafhumnya manusia. Sedih, senang, susah, gembira, baik, jahat, indah, semraut, simpatik, empatik, apatis, dan sebagainya. Absurd, karena peran yang

adakalanya paradoks. Pengemban sekaligus pelanggar amanah. Pengingat namun kerap menyengaja lupa.
Mulai dari jabang bayi yang merah. Yang baru menghirup kenaifan hidup. Sama sekali tak ada beban, lantaran belum termasuk mukallaf. Individu yang belum terkena hukum. Ia masih bebas, sebebas-bebasnya. Berperilaku seperti lingkungan mencontohkan. Ketika salah, maka tak pantas ia dipersalahkan.
Di fase inilah dipercaya sebagai masa keemasan anak manusia. Kedua orangtua yang menjadi sosok-sosok terdekat, yang dominan menjadi proyek percontohan proses belajar anaknya. Berperan besar “menentukan” masa depan buah hati mereka. Masa-masa ini, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah, namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya.” (Muttafaq alaih).
Beranjak remaja dan fase-fase berikutnya, proses terus berlanjut. Makhluk manusia sudah terkena hukum. Apa-apa yang dilakukan jika tak berkesesuaian dengan aturan, maka harus dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, pun demikian. Disinilah pertarungan menghapus yang absurd itu terjadi. Tak akan ada lagi paradoks, jika ragu sudah berhasil ditaklukan.
Untuk sampai di ujung kefanaan, tak semua individu mengalami fase tadi. Bisa saja tak lama setelah terlahir ke dunia, Allah SWT sudah memanggilnya. Bagi yang diberi kesempatan lebih panjang, maknai itu sebagai bentuk kasih sayang Allah, agar bisa mengoptimalkan persiapan. Persiapan berupa bekal hakiki yang akan menjadi penolong di hari kemudian. Ujung yang indah. Insya Allah.
Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Q.S. Al-Isra:21)

0 komentar:

Posting Komentar