Mati bagiku tak menjadi masalah
Asalkan ada dalam Ridha dan Rahmat Allah
Dengan jalan apapun kematian itu terjadi
Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkah dan rahmat Allah tercurah
Pada setiap sobekan daging dan tetesan darah
Sajak itu mengalir egitu saja dari mulut kering Khubaid bin Adi. Siang itu udara menebarkan aroma kematian ke berbagai penjuru tempat. Amis darah tercium menyengat menusuk hidung. Dari penjara di sudut Mekah, salahseorang sahabat merintih menahan sakit.
Darah mengalir dari berbagai lubang di tubuhnya. Dari mulut, telinga, hidung, bagai sungai yang mengalir tanpa henti dari tubuh Khubaid, salah seorang sahabat Nabi yang tertangkap ketika hendak memata-matai pihak Quraisy.
Penangkapan ini menjadi pesta besar bagi kaum quraisy, terutama bani Harits. Bagaimana tidak, Khubaid adalah orang yang pernah menghabisi nyawa pemimpin kaum kafir Bani Harits., al harits bin Amir bin naufal saat perang badar berlangsung.
Tak heran saat penangkapan Khubaid tercium di Mekah, kaum Bani Harits begitu bernafsu untuk menyiksa Khubaid. Kebencian menggelora di dada mereka.
“Kami akan menguliti kulit Khubaid!” teriak salah seorang anggota Bani Harits ketika mengetahui Khubaid telah tertangkap.
Di penjara, detik demi detik adalah rangkaian waktu Khubaid menuju kematian. Siksaan yang dialaminya di penjara melebihi siksaan yang pernah dialami oleh para tahanan manapun. Dinding penjara Khubaid sampai-sampai berubah merah!
“Kau akan kami bebaskan. Asalkan kau meminta maaf kepada Kaum Bani Harits dan ingkar atas ajaran Muhammad,” bentak salah seorang penjaga kepada Khubaid.
“Demi Allah, yang menguasai nafasku ini, aku tak akan meminta belas kasihan kebebasan pada kalian!” teriak Khubaid tak kalah garang sambil mengucapkan takbir.
Deraan siksaan yang dihadapi Khubaid semakin hebat. Namun, seiring muncul luka dan darah di tubuhnya, iman Khubaid semakin menebal. Dirinya semakin percaya diri terhadap ajaran Muhammad. Setiap pukulan yang diterima ia balas dengan senyuman. Setiap tetsan darah yang mengalir dari tubuhnya ia balas dengan tertawa. Orang-orang musyrik kebingungan dengan apa yang dialami oleh Khubaid. Mereka mulai frustasi Khubaid tidak bisa diajak untuk ingkar dari ajaran Rasulullah.
Hingga pada suatu hari, kaum musyrik menyeret tubuh lemah Khubaid ke suatu tempat yang bernama Tanim. Kaum musyrik berencana akan menyali tubuh Khubaid! Inilah peristiwa pertama dalam sejarah bangsa Arab, dimana mereka menyalib seorang laki-laki kemudian membunuhnya di atas salib. Kaum musyrik telah menyiapkan pelepah tamar untuk membuat sebuah salib besar.
“Wahai Khubaid yang keras kepala! Sebelum ajal datang menjemput, apakah yang ingin kau lakukan untuk yang terakhir kalinya?” kata salah seorang musyrikin.
‘Aku ingin salat. Maka sebelum kalian membunuuhku, izinkanlah aku menghadap tuhanku terakhir kalinya di atas dunia yang fana ini,” rintih Khubaid.
Dengan tubuhnya yang ringkih, Khubaid melakukan tayamum. Nafasnya tersengal-sengal. Dari tubuhnya darah mengakir menganak sungai. Kaum musyrikin menyangka dalam diri Khubaid terjadi tawar menawar untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya terhadap ajaran Rasulullah.
Namun, iman Khubaid bagai matahari menyinari bumi ini. Kukuh dan tak tergantikan. Khubaid melakukan salat sunah dua rakaat dengan khusyuk, tenang dan hati yang pasrah. Setiap inci tubuhnya, ia serahkan pada Dzat Pencipta Kehidupan. Aroma kesturi memenuhi udara disekitar tubuh Khubaid. “Inikah aroma syurga itu? Jika benar, bawalah hamba ke tempat itu ya Allah,” doa Khubaid dalam hati.
“Kau masih belum mau keluar dari ajaran Muhammad padahal kematian ada di pelupuk matamu?” tanya salah seorang algojo pada Khubaid.
“Demi Allah, kalau kalian menyangka aku takut mati, kalian salah sangka. Aroma syurga telah aku rasakan. Aku akan menyongsong kematian itu dengan senyuman. Tak sedetikpun aku akan ingkar pada ajaran Muhammad!” kata Khubaid.
Tak menunggu lama lagi, kaum musyrikin menyandarkan tubuh Khubaid di atas kayu salib. Setiap tubuhnya diikat dengan kukuh. Salib diangkat. Hingga dari kejauhan terlihat tubuh Khubaid terpancang di atas kayu salib.
Dimulailah penyiksan itu. Panah-panah dilepaskan. Khubaid menjadi objek sasaran! Ratusan panah enancap di tubuhnya. Cairan merah tak hentinya mengalir dari tubuh Khubaid. Namun Khubaid tetap bertahan.
Melihat hal itu, kaum musyrikin menghunuskan pedang mereka. Kaum musyrikin mulai menyayat-nyayat kulit Khubaid. Kekejaan yang diluar batas ini sengaja dilakukan perlahan. Darah semakin deras mengucur. Khubaid masih bertahan. Tak sekalipun ia memicingkan matanya atau mengaduh kesakitan. Ia malah ersenyum, sebab lagi-lagi aroma kesturi yang menyengat tercium hidungnya.
“kau akan kami bebaskan asalkan kau ingkar dari ajaran Muhammad. Sukakah engkau melihat Muhammad menggantikan penderitaan engkau?”
“Demi Allah tak sudi aku bersama keluargaku menikmati kesenangan dunia sedang Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!” teriak Khubaid lantang. Suara itu bergema menusuk gendang telinga kaum musyrikin. Hingga menyebabkan petinggi Quraisy, Abu Sofyan berkata:
“Demi Allah, belum pernah kulihat manusia yang lebih mencintai manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.
Hingga pada akhirnya keberingasan kaum musyrikin semakin menjadi-jadi. Tubuh Khubaid tak tahan lagi menahan penderitaan. Ia meninggal dengan senyum terpahat di bibirnya yang penuh darah dan panah. Tubuhnya harum diselimuti aroma kesturi. Kumpulan burung pemakan bangkaipun yang awalnya melayang-layang di atas tubuh Khubaid enggan memakan mayatnya yang terbujur kaku. Burung pemakan bangkai itu malah berkumpul memandangi tubuh Khubaid. Menatapnya kemudian berlalu seolah-olah mengantarkan ruh Khubaid kembali pada Sang Maha Rahim.
Jumat, 22 Oktober 2010
SENYUM KHUBAID DI GERBANG KEABADIAN
Diposting oleh Dwie Saptarani di 08.30 Jumat, 22 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
SENYUM KHUBAID DI GERBANG KEABADIAN
Mati bagiku tak menjadi masalah
Asalkan ada dalam Ridha dan Rahmat Allah
Dengan jalan apapun kematian itu terjadi
Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkah dan rahmat Allah tercurah
Pada setiap sobekan daging dan tetesan darah
Sajak itu mengalir egitu saja dari mulut kering Khubaid bin Adi. Siang itu udara menebarkan aroma kematian ke berbagai penjuru tempat. Amis darah tercium menyengat menusuk hidung. Dari penjara di sudut Mekah, salahseorang sahabat merintih menahan sakit.
Darah mengalir dari berbagai lubang di tubuhnya. Dari mulut, telinga, hidung, bagai sungai yang mengalir tanpa henti dari tubuh Khubaid, salah seorang sahabat Nabi yang tertangkap ketika hendak memata-matai pihak Quraisy.
Penangkapan ini menjadi pesta besar bagi kaum quraisy, terutama bani Harits. Bagaimana tidak, Khubaid adalah orang yang pernah menghabisi nyawa pemimpin kaum kafir Bani Harits., al harits bin Amir bin naufal saat perang badar berlangsung.
Tak heran saat penangkapan Khubaid tercium di Mekah, kaum Bani Harits begitu bernafsu untuk menyiksa Khubaid. Kebencian menggelora di dada mereka.
“Kami akan menguliti kulit Khubaid!” teriak salah seorang anggota Bani Harits ketika mengetahui Khubaid telah tertangkap.
Di penjara, detik demi detik adalah rangkaian waktu Khubaid menuju kematian. Siksaan yang dialaminya di penjara melebihi siksaan yang pernah dialami oleh para tahanan manapun. Dinding penjara Khubaid sampai-sampai berubah merah!
“Kau akan kami bebaskan. Asalkan kau meminta maaf kepada Kaum Bani Harits dan ingkar atas ajaran Muhammad,” bentak salah seorang penjaga kepada Khubaid.
“Demi Allah, yang menguasai nafasku ini, aku tak akan meminta belas kasihan kebebasan pada kalian!” teriak Khubaid tak kalah garang sambil mengucapkan takbir.
Deraan siksaan yang dihadapi Khubaid semakin hebat. Namun, seiring muncul luka dan darah di tubuhnya, iman Khubaid semakin menebal. Dirinya semakin percaya diri terhadap ajaran Muhammad. Setiap pukulan yang diterima ia balas dengan senyuman. Setiap tetsan darah yang mengalir dari tubuhnya ia balas dengan tertawa. Orang-orang musyrik kebingungan dengan apa yang dialami oleh Khubaid. Mereka mulai frustasi Khubaid tidak bisa diajak untuk ingkar dari ajaran Rasulullah.
Hingga pada suatu hari, kaum musyrik menyeret tubuh lemah Khubaid ke suatu tempat yang bernama Tanim. Kaum musyrik berencana akan menyali tubuh Khubaid! Inilah peristiwa pertama dalam sejarah bangsa Arab, dimana mereka menyalib seorang laki-laki kemudian membunuhnya di atas salib. Kaum musyrik telah menyiapkan pelepah tamar untuk membuat sebuah salib besar.
“Wahai Khubaid yang keras kepala! Sebelum ajal datang menjemput, apakah yang ingin kau lakukan untuk yang terakhir kalinya?” kata salah seorang musyrikin.
‘Aku ingin salat. Maka sebelum kalian membunuuhku, izinkanlah aku menghadap tuhanku terakhir kalinya di atas dunia yang fana ini,” rintih Khubaid.
Dengan tubuhnya yang ringkih, Khubaid melakukan tayamum. Nafasnya tersengal-sengal. Dari tubuhnya darah mengakir menganak sungai. Kaum musyrikin menyangka dalam diri Khubaid terjadi tawar menawar untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya terhadap ajaran Rasulullah.
Namun, iman Khubaid bagai matahari menyinari bumi ini. Kukuh dan tak tergantikan. Khubaid melakukan salat sunah dua rakaat dengan khusyuk, tenang dan hati yang pasrah. Setiap inci tubuhnya, ia serahkan pada Dzat Pencipta Kehidupan. Aroma kesturi memenuhi udara disekitar tubuh Khubaid. “Inikah aroma syurga itu? Jika benar, bawalah hamba ke tempat itu ya Allah,” doa Khubaid dalam hati.
“Kau masih belum mau keluar dari ajaran Muhammad padahal kematian ada di pelupuk matamu?” tanya salah seorang algojo pada Khubaid.
“Demi Allah, kalau kalian menyangka aku takut mati, kalian salah sangka. Aroma syurga telah aku rasakan. Aku akan menyongsong kematian itu dengan senyuman. Tak sedetikpun aku akan ingkar pada ajaran Muhammad!” kata Khubaid.
Tak menunggu lama lagi, kaum musyrikin menyandarkan tubuh Khubaid di atas kayu salib. Setiap tubuhnya diikat dengan kukuh. Salib diangkat. Hingga dari kejauhan terlihat tubuh Khubaid terpancang di atas kayu salib.
Dimulailah penyiksan itu. Panah-panah dilepaskan. Khubaid menjadi objek sasaran! Ratusan panah enancap di tubuhnya. Cairan merah tak hentinya mengalir dari tubuh Khubaid. Namun Khubaid tetap bertahan.
Melihat hal itu, kaum musyrikin menghunuskan pedang mereka. Kaum musyrikin mulai menyayat-nyayat kulit Khubaid. Kekejaan yang diluar batas ini sengaja dilakukan perlahan. Darah semakin deras mengucur. Khubaid masih bertahan. Tak sekalipun ia memicingkan matanya atau mengaduh kesakitan. Ia malah ersenyum, sebab lagi-lagi aroma kesturi yang menyengat tercium hidungnya.
“kau akan kami bebaskan asalkan kau ingkar dari ajaran Muhammad. Sukakah engkau melihat Muhammad menggantikan penderitaan engkau?”
“Demi Allah tak sudi aku bersama keluargaku menikmati kesenangan dunia sedang Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!” teriak Khubaid lantang. Suara itu bergema menusuk gendang telinga kaum musyrikin. Hingga menyebabkan petinggi Quraisy, Abu Sofyan berkata:
“Demi Allah, belum pernah kulihat manusia yang lebih mencintai manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.
Hingga pada akhirnya keberingasan kaum musyrikin semakin menjadi-jadi. Tubuh Khubaid tak tahan lagi menahan penderitaan. Ia meninggal dengan senyum terpahat di bibirnya yang penuh darah dan panah. Tubuhnya harum diselimuti aroma kesturi. Kumpulan burung pemakan bangkaipun yang awalnya melayang-layang di atas tubuh Khubaid enggan memakan mayatnya yang terbujur kaku. Burung pemakan bangkai itu malah berkumpul memandangi tubuh Khubaid. Menatapnya kemudian berlalu seolah-olah mengantarkan ruh Khubaid kembali pada Sang Maha Rahim.
Asalkan ada dalam Ridha dan Rahmat Allah
Dengan jalan apapun kematian itu terjadi
Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi
Kuberserah menyerah kepada-Nya
Sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya
Semoga berkah dan rahmat Allah tercurah
Pada setiap sobekan daging dan tetesan darah
Sajak itu mengalir egitu saja dari mulut kering Khubaid bin Adi. Siang itu udara menebarkan aroma kematian ke berbagai penjuru tempat. Amis darah tercium menyengat menusuk hidung. Dari penjara di sudut Mekah, salahseorang sahabat merintih menahan sakit.
Darah mengalir dari berbagai lubang di tubuhnya. Dari mulut, telinga, hidung, bagai sungai yang mengalir tanpa henti dari tubuh Khubaid, salah seorang sahabat Nabi yang tertangkap ketika hendak memata-matai pihak Quraisy.
Penangkapan ini menjadi pesta besar bagi kaum quraisy, terutama bani Harits. Bagaimana tidak, Khubaid adalah orang yang pernah menghabisi nyawa pemimpin kaum kafir Bani Harits., al harits bin Amir bin naufal saat perang badar berlangsung.
Tak heran saat penangkapan Khubaid tercium di Mekah, kaum Bani Harits begitu bernafsu untuk menyiksa Khubaid. Kebencian menggelora di dada mereka.
“Kami akan menguliti kulit Khubaid!” teriak salah seorang anggota Bani Harits ketika mengetahui Khubaid telah tertangkap.
Di penjara, detik demi detik adalah rangkaian waktu Khubaid menuju kematian. Siksaan yang dialaminya di penjara melebihi siksaan yang pernah dialami oleh para tahanan manapun. Dinding penjara Khubaid sampai-sampai berubah merah!
“Kau akan kami bebaskan. Asalkan kau meminta maaf kepada Kaum Bani Harits dan ingkar atas ajaran Muhammad,” bentak salah seorang penjaga kepada Khubaid.
“Demi Allah, yang menguasai nafasku ini, aku tak akan meminta belas kasihan kebebasan pada kalian!” teriak Khubaid tak kalah garang sambil mengucapkan takbir.
Deraan siksaan yang dihadapi Khubaid semakin hebat. Namun, seiring muncul luka dan darah di tubuhnya, iman Khubaid semakin menebal. Dirinya semakin percaya diri terhadap ajaran Muhammad. Setiap pukulan yang diterima ia balas dengan senyuman. Setiap tetsan darah yang mengalir dari tubuhnya ia balas dengan tertawa. Orang-orang musyrik kebingungan dengan apa yang dialami oleh Khubaid. Mereka mulai frustasi Khubaid tidak bisa diajak untuk ingkar dari ajaran Rasulullah.
Hingga pada suatu hari, kaum musyrik menyeret tubuh lemah Khubaid ke suatu tempat yang bernama Tanim. Kaum musyrik berencana akan menyali tubuh Khubaid! Inilah peristiwa pertama dalam sejarah bangsa Arab, dimana mereka menyalib seorang laki-laki kemudian membunuhnya di atas salib. Kaum musyrik telah menyiapkan pelepah tamar untuk membuat sebuah salib besar.
“Wahai Khubaid yang keras kepala! Sebelum ajal datang menjemput, apakah yang ingin kau lakukan untuk yang terakhir kalinya?” kata salah seorang musyrikin.
‘Aku ingin salat. Maka sebelum kalian membunuuhku, izinkanlah aku menghadap tuhanku terakhir kalinya di atas dunia yang fana ini,” rintih Khubaid.
Dengan tubuhnya yang ringkih, Khubaid melakukan tayamum. Nafasnya tersengal-sengal. Dari tubuhnya darah mengakir menganak sungai. Kaum musyrikin menyangka dalam diri Khubaid terjadi tawar menawar untuk menyerah kalah dan menyatakan keingkarannya terhadap ajaran Rasulullah.
Namun, iman Khubaid bagai matahari menyinari bumi ini. Kukuh dan tak tergantikan. Khubaid melakukan salat sunah dua rakaat dengan khusyuk, tenang dan hati yang pasrah. Setiap inci tubuhnya, ia serahkan pada Dzat Pencipta Kehidupan. Aroma kesturi memenuhi udara disekitar tubuh Khubaid. “Inikah aroma syurga itu? Jika benar, bawalah hamba ke tempat itu ya Allah,” doa Khubaid dalam hati.
“Kau masih belum mau keluar dari ajaran Muhammad padahal kematian ada di pelupuk matamu?” tanya salah seorang algojo pada Khubaid.
“Demi Allah, kalau kalian menyangka aku takut mati, kalian salah sangka. Aroma syurga telah aku rasakan. Aku akan menyongsong kematian itu dengan senyuman. Tak sedetikpun aku akan ingkar pada ajaran Muhammad!” kata Khubaid.
Tak menunggu lama lagi, kaum musyrikin menyandarkan tubuh Khubaid di atas kayu salib. Setiap tubuhnya diikat dengan kukuh. Salib diangkat. Hingga dari kejauhan terlihat tubuh Khubaid terpancang di atas kayu salib.
Dimulailah penyiksan itu. Panah-panah dilepaskan. Khubaid menjadi objek sasaran! Ratusan panah enancap di tubuhnya. Cairan merah tak hentinya mengalir dari tubuh Khubaid. Namun Khubaid tetap bertahan.
Melihat hal itu, kaum musyrikin menghunuskan pedang mereka. Kaum musyrikin mulai menyayat-nyayat kulit Khubaid. Kekejaan yang diluar batas ini sengaja dilakukan perlahan. Darah semakin deras mengucur. Khubaid masih bertahan. Tak sekalipun ia memicingkan matanya atau mengaduh kesakitan. Ia malah ersenyum, sebab lagi-lagi aroma kesturi yang menyengat tercium hidungnya.
“kau akan kami bebaskan asalkan kau ingkar dari ajaran Muhammad. Sukakah engkau melihat Muhammad menggantikan penderitaan engkau?”
“Demi Allah tak sudi aku bersama keluargaku menikmati kesenangan dunia sedang Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!” teriak Khubaid lantang. Suara itu bergema menusuk gendang telinga kaum musyrikin. Hingga menyebabkan petinggi Quraisy, Abu Sofyan berkata:
“Demi Allah, belum pernah kulihat manusia yang lebih mencintai manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.
Hingga pada akhirnya keberingasan kaum musyrikin semakin menjadi-jadi. Tubuh Khubaid tak tahan lagi menahan penderitaan. Ia meninggal dengan senyum terpahat di bibirnya yang penuh darah dan panah. Tubuhnya harum diselimuti aroma kesturi. Kumpulan burung pemakan bangkaipun yang awalnya melayang-layang di atas tubuh Khubaid enggan memakan mayatnya yang terbujur kaku. Burung pemakan bangkai itu malah berkumpul memandangi tubuh Khubaid. Menatapnya kemudian berlalu seolah-olah mengantarkan ruh Khubaid kembali pada Sang Maha Rahim.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar